Showing posts with label Aku Harus Tahu!. Show all posts
Showing posts with label Aku Harus Tahu!. Show all posts

Thursday, November 9, 2017

Sejarah Singkat Hari Kartini

Sejarah Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2017

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Sejarah Singkat Hari Kartini" penasaran, yuk kita baca !

21 april sehingga dengan itu Indonesia yang telah memperingati jasa pahlawan pada tanggal tersebut. Barikut adalah sejarah singkat Hari Kartini yang hingga kini dikenang bangsa Indonesia.

Sejarah Singkat Hari Kartini
Keluarga Besar RA Kartini

Raden Adjeng Kartini adalah anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A Ngasirah yang memiliki kelahiran di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879. Atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Hidup dari kaum bangsawan membuatnya dapat menempuh pendidik yang lebih tinggi daripada temanya dari kaum biasa.

Pada umur 21 Kartini yang harus berhenti menempuh pendidikan karena berbenturan dengan norma yang berlaku saat itu. sehingga dia harus menjalani tradisi di pingit atau larang untuk keluar rumah dari gadis. Namun semangat belajar kartini tidak surut, melalu beberapa surat yang telah ditulisnya, dia telah bertanya dan menghubungi para sahabatnya  yang kebanyakan berasal dari Belanda untuk dapat saling bertukar ilmu.

Hingga akhirnya, Kartini yang telah disunting oleh KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang. Dan suaminya juga telah mendukung keinginan dari Kartini untuk mendirikan sekolah khusus kepada wanita.

Namun, kehendak berkata lain, kalau Kartini telah meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan anak pertama dan terakhirnya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904 di Rembang, Hindia Belanda. Pada saat itu usianya yang masih 25 tahun.

Untuk mengenang jasa dari R.A Kartini ini, hingga saat ini Indonesia telah memperingati Hari Kartini hingga sekarang ini. Ada kata mutiara yang hingga sekarang terkenal dari pehlawan wanita ini, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun ada beberapa kata-kata bijak lainnya yang telah dibuat oleh R.A Kartini yang dapat dijadikan untuk motivasi dalam menjalani hidup. Dalam tulisan kata-kata bijaknya juga telah memiliki visi khusus salah satunya adalah dalam membela Bangsa Indonesia.

Berikut adalah kata-kata dari Raden Adjeng Kartini :

"Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai"

"Jangan mengeluhkan hal – hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang"

"Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya"

"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu – satunya hal yang benar – benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri"

"Saat membicarakan orang lain Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yg baik"

"Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia"

"Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain"

Tujuan dari kata-kata bijak tersebut adalah untuk mengajak rakyat memajukan Indonesi dan tidak mengenal lelah dalam hal mengejar mimpi. Selain itu, dalam peringatan Hari Kartini ini, jasa beliau untuk mengangkat derjay kaum perempuan juga sangat besar.

Dalam peringatan Hari Kartini ini. adalah untuk mengenang jasa dari R.A Kartini yang cukup besar kepada Indonesia dan memajukan emansipasi wanita pada saat itu dengan menyetarakan dengan kaum pria.

Sejarah Singkat Hari Kartini
RA Karniti & Suami

Pemikiran Raden Adjeng Kartini

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.

Mungkin hanya itu sekilas tentang Raden Adjeng Kartini, kami selaku admin mengucapkan Selamat Hari Kartini 21 April 2017, stop meremehkan perempuan karena indonesia tidak akan maju tanpa perempuan..

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

*NB (Sumber: Wikipedia)

Wednesday, November 1, 2017

4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah" penasaran, yuk kita baca !

4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah
Tokoh - Tokoh Revolusioner Indonesia

Berikut adalah Tokoh - Tokoh Revolusioner Indonesia yang sejarah hidupnya seakan hilang dari sejarah, meski beliau turut memperjuangkan Indonesia merdeka. Entah karena sebab apa, namun dugaan kuat bahwa mereka hilang karena sebab politik yaitu karena pergolakan PKI pada masa kemerdekaan Indonesia.

Ibrahim Datuk Tan Malaka


4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah
Datuk Tan Malaka

Nama lengkapnya, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Nama aslinya adalah Ibrahim. Sedangkan “Tan Malaka” adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan. Data yang ada hanya menyebutkan bahwa ia lahir pada Juni 1897. Adapun tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian. Adapun ibunya bernama Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa.

Tan kecil mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat. Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya, GH Horensma, meskipun Tan kadang-kadang tidak patuh, namun ia murid yang pintar. Di sekolahnya, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda.

Ia juga seorang pemain sepak bola yang hebat. Ia lulus dari sekolah pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar “Datuk”. Ia menerima gelar tersebut dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.

Widji Widodo


4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah
Widji Widodo

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963 – meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui, hilang sejak diduga diculik, 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun) adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer.

Keluarga Thukul, begitu sapaan akrabnya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Ayahnya adalah seorang penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga

Thukul Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh.. Tak lama semenjak pernikahannya, Pasangan Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember 1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.

Munir Said Thalib


4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah
Munir Said Thalib

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya, Ia selalu berkomitmen membela siapa saja yang haknya terzalimi. Munir dan sosok humanisnya terlihat ketika ia mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah sebagai penerima "The Right Livelyhood Award,". Lalu, Munir tak segan membagikan seluruh hadiahnya kepada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan ibunda tercinta. Salah satu sosok yang dikenal di dunia Internasional ini, lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan wafat pada 7 September 2004. 

Munir melanjutkan studi masternya di bidang hukum di program studi master (S2) di Universitas Utrecht. Munir melakukan penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda. Saat transit di Singapura, ia wafat karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi racun arsenik.

Namun sangat disayangkan, sampai saat ini kasus kematian Munir menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kasus ini pun menjadi salah satu agenda pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, presiden SBY telah menyatakan bahwa kasus kematian Munir merupakan “a test of our history”. Untuk mengungkap kasus kematian Munir, presiden pun menyatakan bahwa semua pihak yang terlibat dalam kasus Munir harus diproses secara hukum.

Proses hukum yang tidak kunjung selesai ini, membuat banyak pihak seperti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menaruh perhatian lebih terhadap kasus Munir. Karena kasus Munir ini tampak begitu banyak halang rintangnya, dan terkesan ditutup-tutupi oleh beberapa oknum. Munir adalah sosok yang disenangi oleh masyarakat, namun cukup dibenci beberapa oknum. Karena pemikirannya yang berbeda dari masyarakat umum lainnya.

Marsinah


4 Pahlawan Yang Sejarah Hidupnya Seakan Hilang dari Sejarah
Marsinah

Namanya Marsinah. Perempuan ini lahir pada 10 April 1969 di  Nganjuk. Tak ada yang istimewa dengan proses kelahirannya sampai ia menjadi buruh di PT. Catur Putera Surya. Delapan kata  yang menyusun nama tersebut membuatnya identik berasal dari salah satu pulau terpadat di Indonesia. Mengapa ia menjadi spesial saat di perusahaan tersebut?. Lebih tepatnya lagi saat ia aktif terlibat dalam organisasi buruh dan menjadi yang terdepan dalam aksi menuntut kenaikan upah serta kelayakan hidup.

Anak nomor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak usia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya—Pu’irah—yang tinggal bersama bibinya—Sini—di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5  Nganjuk. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.

Di lingkungan keluarganya, ia dikenal anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. Sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. “Dia sering mengirim bontotan ke sawah untuk saya. Kalau panas atau hujan, biasanya anak itu memakai payung dari pelepah pisang,” kenang Suradji, pamannya Marsinah sambil menerawang. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya pergi untuk menyaksikan siaran berita televisi.

Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, tingan tangan dan setia kawan. Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Kalau ada kawan yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani.

Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

Yah, itu tadi sekilas tentang Tokoh - Tokoh Revolusioner Indonesia yang sejarah hidupnya seakan hilang dari sejarah, bila ingin mengenal lebih lanjut siapa itu Tan Malaka dan kenapa Marsinah dibunuh? bisa membaca artikel dibawah

Baca juga:

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Wednesday, October 4, 2017

Nasib Pemikul Tandu Jendral Soedirman

Indonesia Sudah Merdeka?? Nanti doeloe…

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Nasib Pemikul Tandu Jendral Soedirman" penasaran, yuk kita baca !

Jika setiap tahun para pejabat dari pemerintahan ke pemerintahan yang satunya lagi merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dengan sangat mewah dan hidup bergelimang harta, ternyata para veteran pejuang yang dulu berjuang untuk kemerdekaan negeri ini hidup dengan memprihatinkan dan dalam keadaan miskin.

Nasib Pemikul Tandu Jendral Soedirman
Djuwari Si Bapak Pemikul Tandu Jendral Soedirman

Bapak Pemikul Tandu Jendral Soedirman

Salah satunya adalah pejuang Djuwari. Melihat sosok Djuwari, tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar, Jenderal Soedirman. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari.

Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan. Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.

Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai. “Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk – (Terjemahan: yang penting sudah pernah manggul Jenderal, Pak Dirman. Saya manggul dari Goliman sampai Bajulan, itu masuk Nganjuk) ,” ujar suami almarhum, Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.

Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu Jenderal merupakan pengabdian.

Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun. Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu.

Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras. “Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman) – (Terjemahan: Dulu yang memanggul tandu Jenderal Soedirman yaa gantian, kira-kira ada 7 orang, yang ikut manggul dari Goliman yaitu Warso Dauri, Martoredjo dan Djoyo),” akunya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa. “Teko Bajulan (Nganjuk),

aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarik) karo sarung – (Terjemahan: Dari Bajulan, saya dan yang pada memikul langsung kembali ke Goliman. Waktu itu jarik dan sarung),” imbuhnya.

Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya. “Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh – (Terjemahan: Pak Dirman berpesan, hidup itu harus pada rukun, dengan tetangga, seluruh desa juga harus rukun semua),” katanya.

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan.

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Tuesday, October 3, 2017

Mengenal Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Mengenal Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution" penasaran, yuk kita baca !

Setiap kali bercerita atau mendengar kisah tentang tragedi berdarah G30S/PKI, yang menewaskan tujuh jenderal terbaik di zaman itu, yang kini menjadi pahlawan revolusi, kita selalu ingat tentang Ade Irma Suryani, anak dari Jenderal Besar AH Nasution.

Ia adalah pahlawan mungil nan cantik milik bangsa ini yang kena peluru Cakrabirawa yang datang hendak menangkap dan membunuh Jenderal AH Nasution. Sang bocah yang cantik itu terkulai lemas dan bersimbah darah.

Mengenal Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution
Keluarga Jenderal AH Nasution 

Bagaimana melukiskan Kisah si Ade Irma Irma Suryani?

Bocah kecil itu terkulai lemah dengan tubuh berdarah-darah. Ia tak berdaya tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata, tembakan itu telah merobek punggungnya hingga peluru menembus limpa. Setelah enam hari dirawat, bocah kecil nan lucu dan sangat cantik itu pun menghembuskan nafas terakhir.

"Papa...apa salah adek?" demikianlah kalimat yang tertulis di lukisan Ade Irma Suryani dengan latar belakang Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Museum Jendral AH Nasution di Jl Teuku Umar 40 Menteng.

Ade Irma Suryani tak pernah memeroleh jawaban atas pertanyaan tersebut. Ade Irma yang saat itu baru berusia 5 tahun, meninggal akibat tertembak peluru pasukan Cakrabirawa yang merangsek masuk ke dalam rumahnya untuk menangkap sang ayah.

Namun yang jadi korban adalah Ade Irma Suryani dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean yang diculik lalu di Lubang Buaya. AH Nasution yang selamat dalam peristiwa itu melukiskan perasaannya lewat sebaris kalimat yang tertulis di nisan Ade Irma. "Anak Saja jang tertjinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai Ajahmu"

Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?

Yanti Nurdin Nasution, anak pertama AH Nasution, menjelaskan detik-detik mencekam tersebut. Sebagaimana dilansir laman Facebook Museum of Jenderal Besar Dr. AH. Nasution, berikut petikan kesaksiannya :

Saat itu umur saya 13 tahun, saya tidur di kamar seberang kamar ibu dan bapak Nasution, saat terjadi ribut-ribut disertai tembakan saya terbangun kemudian saya berusaha menyelamatkan diri dengan melompat jendela samping yang tingginya 2 meter, sampai tulang kaki saya patah yang saya rasakan sakitnya sampai sekarang, paha kaki saya yang kanan penuh dengan pen penyambung tulang.

Dengan menahan rasa sakit saya cari ajudan dan saya beritahu tentang tembakan di kamar bapak saya, terus saya sembunyi di kamar para ajudan. Tak berapa lama terjadi ribut-ribut di ruang jaga dan ajudan pak Nas Lettu Czi Pierre Tendean diculik.

Sampai pagi saya bersembunyi. Setelah hari menjelang pagi ibu saya mencari ayah saya sambil menggendong adik saya Ade Irma Suryani yang terluka terkena tembakan oleh pasukan Cakrabirawa. Saat itu ayah saya sudah melompat pagar Kedubes Irak bersembunyi di belakang tong untuk menyelamatkan diri dari penculikan dan pembunuhan.

Ibu saya membawa adik saya ke RSPAD untuk dioperasi untuk mengambil peluru yang bersarang di limpanya. Beberapa kali adik saya dioperasi. Saat menunggu operasi, saya terus menangis, adik saya bilang "kakak jangan menangis, adik sehat". Terus adik saya tanya ke ibu saya "kenapa ayah mau dibunuh mama"?

Adik saya dirawat beberapa hari di RSPAD, tanggal 6 oktober adik saya dipanggil Allah swt. Dalam hati saya bertanya : Kenapa PKI mau membunuh ayah saya. Apa salah ayah saya?. Puji syukur alhamdulillah ayah saya dapat menyelamatkan diri atas anjuran ibu saya, namun ajudan dan adik saya menjadi korban.

Kisahnya Berawal?

Para pasukan Cakrabirwa itu menggedor dan menendang pintu kamar tidur dengan kasar. Saat itu sang Jendral didampingi Ibu Nas telah menyelamatkan diri ke sisi rumah. Ade Irma yg terbangun diserahkan kepada adik Bu Nas yang berada di kamar sebelah. Pasukan Cakrabirawa dengan beringas menembaki pintu kamar tidur. Beberapa peluru menembus punggung si kecil Ade.

Bu Nas berlari menuju pesawat telepon untuk melaporkan kejadian di rumahnya ke Komandan Garnisun Mayjen Umar Wirahadikusumah. Namun sambungan telepon sudah diputus. Dengan berani Bu Nas menghadapi pasukan Cakrabirawa bersenapan, yang mendesak keberadaan sang jendral. Jawab Bu Nas,"Bapak tidak di rumah, beliau sudah 2 hari di Bandung.""

Sementara di ruang paviliun, sebagian pasukan Cakrabirawa lainnya menangkap Lettu Pierre Tendean, yang mereka kira adalah Jenderal AH Nasution. Setelah diculik, Pierre tewas dibunuh di Lubang Buaya."

Sementara Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Baca Juga :

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Kematin Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Kematin Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution" penasaran, yuk kita baca !

Publik saat ini tengah dalam perdebatan terkait kasus sejarah G30S/PKI. Ternyata para pahlawan yang tewas dalam kejadian tersebut tak hanya orang-orang dewasa, namun juga ada seorang gadis cilik, ia adalah putri dari AH Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Ade Irma, gadis kecil yang tak bersalah itu juga tewas tertembak dalam pelukan ibunya. Menurut kesaksian putri Sulung AH Nasution, Hendrianti Sahara Nasution, sang adik tewas tertembak dari jarak dekat.

Kematin Pahlawan Cilik Ade Irma Suryani Nasution
Ade Irma Suryani Nasution

Kematin Ade Irma Suryani Nasution

Kisah itu berawal pada pukul 3.30 WIB dini hari, ketika Jenderal AH Nasution dan istrinya, Johana Sunarti Nasution, terbangun dari tidur. "Pukul 3.30 pagi, ibu saya dan ayah terbangun gara-gara nyamuk. Terdengar pintu digerebek, ibu saya melihat Cakrawabirawa masuk," ujar Hendrianti kepada reporter TV One. Menyadari ada pasukan Cakrabirawa, istri AH Nasution menutup kembali pintu tersebut lalu mengatakan kepada suaminya, "Itu yang membunuh kamu sudah datang."

"Pintu ditutup, ditembak oleh cakrawabirawa, lalu ditahan lagi oleh ibu saya. Lalu bapak (AH Nasution) bangun dan bilang biar saya hadapi, tapi ibu bilang jangan," papar Hendrianti. Saat kehadiran pasukan Cakrabirawa, Ade Irma saat itu tengah bersama ibu dan ayahnya, AH Nasution). Sang ibu hendak menyelamatkan suaminya, AH Nasution, yang saat itu memang menjadi incaran.

"Ibu bilang ke adik bapak, tolong pegang Irma, karena dia harus menyelamatkan bapak. Sementara ibu beliau nangis lihat ayah ditembak," kata Hendrianti. Adik AH Nasution pun menggendong Ade Irma Suryani, namun karena panik dan ia membuka pintu yang diberondong oleh pasukan Cakrabirawa. "Langsung, (pasukan Cakrabirawa) menembak adik saya. Jaraknya segini (sambil menunjuk diorama tempat ditembaknya Ade Irma dalam jarak dekat)," tutur Hendrianti.

"Adik saya ditembak, peluru masuk ke tangan tante saya, dan menembus ke badan adik saya," ujar Hendrianti. Setelah Ade Irma Suryani tertembak, pintu ditutup kembali oleh Johanna Nasution. Istri AH Nasution pun menggendong tubuh Ade Irma Suryani yang bersimbah darah, sambil mengantar A.H Nasution untuk menyelamatkan diri.

Setelah pasukan Cakrabirawa meninggalkan kediaman A.H Nasution, Johanna dan keluarga langsung membawa Ade yang sudah bersimbah darah ke RSPAD untuk mendapat pertolongan. Setelah menjalani operasi, lima hari kemudian ia dipanggil sang maha kuasa.

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

*Sumber: TV ONE

Kisah Persahabatan Bung Soekarno dengan Bung Hatta

CERITA SAHABAT SEJATI



Kisah Persahabatan Bung Soekarno dengan Bung Hatta
Bung Karno dan Bung Hatta
Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Kisah Persahabatan Bung Soekarno dengan Bung Hatta" penasaran, yuk kita baca !

Pengkritik paling tajam sekaligus sahabat Bung Karno sampai akhir hayat adalah Bung Hatta. Sehingga mereka sering dikenal dengan sebutan Dwitunggal. Sahabat yang tak terpisahkan.

Saat Bung Karno memutuskan menikahi Hartini, Bung Hatta marah besar karena sahabatnya tersebut menduakan Fatmawati.

Karena hal itu Bung Hatta sampai bertahun-tahun tak mau bercakap-cakap dengan Hartini, hingga akhirnya kematian Bung Karno mencairkan keduanya.

Meski bersahabat, pemikiran mereka tentang pemerintahan sering tak sejalan. Hingga pada 1 Desember 1956 bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Selanjutnya melalui surat kabar atau forum-forum, Bung Hatta sering mengecam dan menggugat kebijakan-kebijakan Bung Karno dan menganggapnya sebagai seorang diktator.

Namun Bung Karno tak pernah membantah kecaman-kecaman Bung Hatta, ia menyimpan segan. Dalam tanggapannya, paling Bung Karno hanya mengucapkan terima kasih atau menanyakan kapan mereka bisa bertemu untuk membahasnya.

Suatu hari di tahun 1970, Guntur putra sulung Bung Karno kebingungan mencari wali nikah karena sang ayah tak dapat menghadirinya. Tanpa ragu Bung Karno menyebutkan nama Bung Hatta sebagai wali nikah putranya. Guntur kaget dan tak yakin Bung Hatta bersedia.

Kemudian Bung Karno menyebutkan, Bung Hatta bisa mencaci-maki dirinya tentang berbagai kebijakan politik, tapi dalam kehidupan pribadi mereka terikat persaudaraan selama perjuangan kemerdekaan. Dan Bung Karno benar. Ketika diminta, Bung Hatta langsung menyatakan kesediaannya.

Persahabatan antara keduanya ini langgeng hingga ajal menjemput Bung Karno. Bulan Juni 1970, bung Karno yang sakit parah diopname di RS tentara. Merasa tak tertolong lagi, Bung Hatta minta ijin menjenguknya.

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Saturday, September 30, 2017

Bendera Setengah Tiang Mengenang Peristiwa G30S/PKI

Bendera Setengah Tiang

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Bendera Setengah Tiang Mengenang Peristiwa G30S/PKI" penasaran, yuk kita baca !

Bendera setengah tiang adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kegiatan pengibaran bendera yang di kibarkan di tengah-tengah tiang. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, berkabung, atau kemalangan.

Tradisi mengibarkan bendera setengah tiang sudah dimulai pada abad ke-17. Tindakan ini dipercaya bisa membuat "bendera kematian yang tak terlihat". Misalnya di Indonesia, yaitu waktu tanggal 30 september yang mengenang peristiwa G30S/PKI.

Ketika akan mengibarkan bendera setengah tiang, bendera tersebut harus digerek hingga mendekati finial (puncak tiang) untuk beberapa saat, kemudian baru diturunkan menjadi setengah tiang, begitu juga ketika hendak diturunkan, bendera tersebut harus dinaikkan mendekati finial, dan kemudian baru diturunkan sepenuhnya.

Bendera Setengah Tiang Mengenang Peristiwa G30S/PKI
Ilustrasi Bendera Setengah Tiang Mengenang Peristiwa G30S/PKI

Peristiwa G30S/PKI

Peristiwa G30S/PKI atau biasa disebut dengan Gerakan 30 September merupakan salah satu peristiwa pemberontakan komunis yang terjadi pada bulan september sesudah beberapa tahun Indonesia merdeka. Peristiwa G 30 S PKI terjadi di malam hari tepatnya pada tanggal 30 September tahun 1965 sampai di awal 1 Oktober 1965. Dalam sebuah kudeta, setidaknya ada 7 perwira tinggi militer yang terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Partai Komunis saat itu sedang dalam kondisi yang amat kuat karena mendapatkan sokongan dari Presiden Indonesia Pertama, Ir. H Soekarno. Tidak heran jika usaha yang dilakukan oleh segelintir masyarakat demi menjatuhkan Partai Komunis berakhir dengan kegagalan berkat bantuan Presiden kala itu.

Hingga sampai saat ini, peristiwa G30s/PKI tetap menjadi perdebatan antara benar atau tidaknya Partai Komunis Indonesia yang bertanggung jawab dalam peristiwa tersebut.

Sebelum peristiwa G30S PKI terjadi, Partai Komunis Indonesia sempat tercatat sebagai partai Komunis terbesar di dunia. Hal ini  didukung dengan adanya sejumlah partai komunis yang telah tersebar di Uni Soviet dan Tiongkok.

Semenjak dilakukannya audit  pada tahun 1965, setidaknya ada 3,5 juta pengguna aktif yang bernaung menjalankan program dalam partai ini. Itu pun belum termasuk dengan 3 juta jiwa yang menjadi kader dalam anggota pergerakan pemuda komunis.

Di sisi lain, PKI juga memiliki hak kontrol secara penuh terhadap pergerakan buruh, kurang lebih ada 3,5 juta orang telah ada di bawah pengaruhnya. Belum sampai disitu, masih ada 9 juta anggota lagi yang terdiri dari gerakan petani dan beberapa gerakan lain. Misal pergerakan wanita, pergerakan sarjana dan beberapa organisasi penulis yang apabila dijumlahkan bisa mencapai angka 20 juta anggota beserta para pendukungnya.

Masyarakat curiga dengan adanya pernyataan isu bahwa PKI adalah dalang dibalik terjadinya peristiwa G30s/PKI yang bermula dari kejadian di bulan Juli 1959, yang mana pada saat itu parlemen telah dibubarkan. Sementara Presiden Soekarno justru menetapkan bahwa konstitusi harus berada di bawah naungan dekrit presiden.

PKI berdiri dibelakang dukungan penuh dekrit presiden Soekarno. Sistem Demokrasi Terpimpin yang diusung oleh Soekarno telah disambut dengan antusias oleh PKI.   Karena dengan adanya sistem ini, diyakini PKI mampu menciptakan suatu persekutuan konsepsi yang Nasionalis, Agamis dan Komunis dengan singkatan NASAKOM.

Cerita Singkat Peristiwa G30S PKI

Peristiwa G30S PKI bermula pada tanggal 1 Oktober. Dimulai dengan kasus penculikan 7 jendral yang terdiri dari anggota staff tentara oleh sekelompok pasukan yang bergerak dari Lapangan Udara menuju Jakarta daerah selatan. Tiga dari tujuh jenderal tersebut diantaranya telah dibunuh di rumah mereka masing-masing, yakni Ahmad Yani, M.T. Haryono dan D.I. Panjaitan.

Sementara itu ketiga target lainya yaitu Soeprapto, S.Parman dan Sutoyo ditangkap secara hidup-hidup. Abdul Harris Nasution yang menjadi target utama kelompok pasukan tersebut berhasil kabur setelah berusaha melompati dinding batas kedubes Irak.

Meskipun begitu, Pierre Tendean beserta anak gadisnya, Ade Irma S. Nasution pun tewas setelah ditangkap dan ditembak pada 6 Oktober oleh regu sergap. Korban tewas semakin bertambah disaat regu penculik menembak serta membunuh seorang polisi penjaga rumah tetangga Nasution. Abert Naiborhu menjadi korban terakhir dalam kejadian ini. Tak sedikit mayat jenderal yang dibunuh lalu dibuang di Lubang Buaya.

Sekitar 2.000 pasukan TNI diterjunkan untuk menduduki sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Lapangan Merdeka, Monas.  Walaupun mereka belum berhasil mengamankan bagian timur dari area ini. Sebab saat itu merupakan daerah dari Markas KOSTRAD pimpinan Soeharto.

Jam 7 pagi, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan sebuah pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, Komandan Cakrabiwa bahwa G30S/PKI telah berhasil diambil alih di beberapa lokasi stratergis Jakarta beserta anggota militer lainnya. Mereka bersikeras bahwa gerakan tersebut sebenarnya didukung oleh CIA yang bertujuan untuk melengserkan Soekarno dari posisinya.

Tinta kegagalan nyaris saja tertulis dalam sejarah peristiwa G30S/PKI. Hampir saja pak Harto dilewatkan begitu saja karena mereka masih menduga bahwa beliau bukanlah seorang tokoh politik.

Selang beberapa saat, salah seorang tetangga memberi tahu pada Soeharto tentang terjadinya aksi penembakan pada jam setengah 6 pagi beserta hilangnya sejumlah jenderal yang diduga sedang dicuilik. Mendengar berita tersebut, Soeharto pun segera bergerak ke Markas KOSTRAD dan menghubungi anggota angkatan laut dan polisi.

Soeharto juga berhasil membujuk dua batalion pasukan kudeta untuk segera menyerahkan diri. Dimulai dari pasukan Brawijaya yang masuk ke dalam area markas KOSTRAD. Kemudian disusul dengan pasukan Diponegoro yang kabur menuju Halim Perdana Kusuma.

Karena prosesnya yang berjalan kurang matang, akhirnya kudeta yang dilancarkan oleh PKI tersebut berhasil digagalkan oleh Soeharto. Sehingga kondisi ini menyebabkan para tentara yang berada di Lapangan Merdeka mengalami kehausan akan impresi dalam melindungi Presiden yang sedang berada di Istana.

Berikut Film Penghianatan G30S/PKI Full Movie :


Berakhirnya Peristiwa G30S PKI

G30S PKI bisa berakhir pada jam 7 malam, pasukan pimpinan Soeharto berhasil mengambil alih atas semua fasilitas yang sebelumnya pernah dikuasai oleh G30S PKI. Jam 9 malam Soeharto bersama dengan Nasution mengumumkan bahwa sekarang ia tengah mengambil alih tentara yang pernah dikuasai oleh PKI dan akan tetap berusaha untuk menghancurkan pasukan kontra-revolusioner demi melindungi posisi Soekarno.

Soeharto melayangkan kembali sebuah ultimatum yang kali ini ditujukan khusus kepada pasukan di Halim. Tak berapa lama kemudian, Soekarno meninggalkan Halim Perdana Kusuma untuk segera menuju istana Presiden lain yang ada di Bogor. Ketujuh jasad orang yang terbunuh dan terbuang di Lubang Buaya pada tanggal 3 Oktober berhasil ditemukan dan dikuburkan secara layak pada tanggal 5 Oktober.

Baca juga:

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Thursday, September 28, 2017

4 buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir

Buku-buku Munir


4 buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir
Buku-buku Munir
Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "4 buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir" penasaran, yuk kita baca !

Penyusunan buku ini adalah sebuah upaya untuk menghadirkan jejak keprihatinan, refleksi, harapan, intensi, semangat, ideologi, cita-cita, opini atau misi yang dinyatakan oleh Munir baik eksplisit maupun implisit secara lebih komprehensif.

Beberapa warisan pemikiran Munir seperti hak perlindungan pekerja, memori sejarah serta politik persahabatan terinspirasi dari pemikiran Walter Benjamin, seorang pemikir teori kritis dalam Mazhab Frankfurt. Pembahasan tentang memori sejarah serta politik persahabatan, mengadopsi dari buah pemikiran Aristoteles dalam Etika Nikomakhea. Warisan pemikiran yang mungkin sebagai penyebab dari kebencian para oknum kepada Munir.

Selain itu, buku ini mencoba untuk mengadakan pembacaan kembali terhadap beberapa gagasan yang berhubungan dengan aktivitas Munir sebagai human rights defender dan human rights thinker, latar belakang keluarga dan tonggak-tonggak kehidupan Munir, gambaran awal bagaimana karakter Munir terbentuk, lalu dalam buku ini juga membicarakan aktivitas Munir dalam dunia perburuhan, yaitu paparan sepak terjang Munir sejak ia bergabung bersama LBH Pos Malang dan LBH Surabaya, aktivisme Munir ketika ia hijrah ke YLBHI Jakarta dan mulai menangani berbagai kasus pelanggaran HAM juga diceritakan disini.

Dalam buku juga tidak lupa diceritakan sedikit romantisme yang terjalin antara Munir dengan sang istri tercinta Suciwati sebelum mereka melangkah ke pelaminan. menelusuri jejak-jejak pemikiran Munir yang tersebar di berbagai makalah atau artikel yang membahas berbagai hal seperti kekerasan Negara, militerisme, impunitas, demokrasi, supemasi sipil, penegakan HAM dan hukum media massa, dan kepemimpinan masa depan.

Buku ini terinspirasi dari empat buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir, yaitu Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa, Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, Bunuh Munir! Sebuah Buku Putih, dan Membangun Bangsa Menolak Militerisme: Jejak Pemikiran Munir (1965-2004). Hal yang membuat buku ini menarik adalah, kita dapat merasakan secara gamblang dan jelas sosok Munir sebenarnya di sini. Sebagai pemuda kita harus memiliki jiwa seperti Munir yang menjunjung tinggi jiwa keadilan.

Baca juga :

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

15 Kasus yang pernah ditangani Munir Said Thalib

Munir Said Thalib 

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "15 Kasus yang pernah ditangani Munir Said Thalib" penasaran, yuk kita baca !

Munir said thalib adalah seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya, Ia selalu berkomitmen membela siapa saja yang haknya terzalimi. Salah satu sosok yang dikenal di dunia Internasional ini, lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan wafat pada 7 September 2004.

15 Kasus yang pernah ditangani Munir Said Thalib
Munir Said Thalib

Kasus-kasus penting yang pernah ditangani

  • Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992
  • Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang, dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia; 1994
  • Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktifis buruh; 1994
  • Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993
  • Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997
  • Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997
  • Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996
  • Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief Samsung; 1995
  • Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993
  • Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994
  • Penasehat hukum Muhadi (seorang sopir yang dituduh telah menembak polisi ketika terjadi bentrokan antara polisi dengan anggota TNI AU) di Madura, Jawa Timur; 1994
  • Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998
  • Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998
  • Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II; 1998-1999
  • Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999 
  • Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku
  • Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS)

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Wednesday, September 27, 2017

Mengenal Munir Said Thalib, Dibunuh Karena Benar

Mengenang Alm. Munir Said Thalib

( 8 Desember 1965 – 26 September 2017)

Mengenal Munir Said Thalib, Dibunuh Karena Benar
Munir Said Thalib
Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Mengenal Munir Said Thalib, Dibunuh Karena Benar" penasaran, yuk kita baca !

Munir dibunuh karena benar. Dia menjadi ikon penegakan HAM di negara ini. Beberapa kasus pelanggaran HAM yang ditangani Munir antara lain kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta (1997-1998), pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok (1984 hingga 1998), penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi I dan II (1998-1999), anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur (1999), penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku dan kasus-kasus pelanggaran HAM di Aceh dan Papua saat memimpin Kontras.

Dia juga menangani kasus pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur (1993), kasus subversif Sri Bintang Pamungkas, Mochtar Pakpahan, Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, dan Sholeh. Munir juga mengadvokasi mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT Chief Samsung (1995) dan nasib 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur (1993).

Mantan Presiden Abdurahman Wahid (almarhum) dalam buku berjudul: Keberanian Bernama Munir, Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir, karya Meicky Shoreamanis Panggabean, Mizan, 2008, mengenal Munir sebagai sosok pemberani dalam memperjuangkan HAM. Bagi Gus Dur, sapaan Abdurahman Wahid, Munir yang lahir di Batu, Malang itu telah menjadi kekayaan bangsa. “Sekian tahun lamanya, ia mengisi hidup dengan perjuangan menegakkan HAM di negeri kita,” jelas Gus Dur.

Apapun bahaya yang mengancam dirinya, dia akan tetap melanjutkan perjuangannya. Inilah yang tidak setiap orang mampu melakukannya, termasuk saya,” ujar Gus Dur mengenang Munir.

Pejuang HAM (Munir Said Thalib)

Sejak tahun 1988, Munir mengabdikan dirinya sebagai pejuang HAM. Kala itu, dirinya masih kuliah di Semester Lima. Sejak kecil dirinya tidak suka dengan kekerasan. “Aku udah enggak respect sama penindas dari kecil,” katanya. Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu pernah menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang militan. “Aku sangat konservatif.

Paradigma berpikir dan bertindaknya berubah saat mengenal sosok demonstran bernama Bambang Sugianto. “Dia paling senang ngajak aku debat. Akhirnya, mulailah aku baca-baca bukum, mulai keluar dari mainstream.

Munir pun tertarik memperjuangkan nasib buruh setelah membaca buku Arief Budiman tentang Revolusi Buruh di Cile. “Nah, sejak itu aku kepengin ngurus buruh,” kenang Munir. 16 April 1996, Munir mendirikan Kontras. Ia makin agresif berhadapan dengan penguasa Orde Baru demi kemajuan HAM. Dia melawan militer saat kasus penculikan aktivis mahasiswa yang dilakukan Tim Mawar dari Kopassus yang kala itu dipimpin oleh Prabowo Subianto. Munir juga mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial. Keberanian memperjuangkan HAM diyakini menjadi latarbelakang pembunuhan Munir. Dia diracun saat akan menempuh pendidikan ke Belanda.

6 September 2004 lalu adalah hari terakhir bagi Munir menginjakan kakinya di tanah air. Dia meninggalkan Suciwati, isteri yang telah mendampinginya sembilan tahun lamanya. Munir juga meninggalkan dua anaknya yang masih kecil. Di Bandara Soekarno-Hatta, mereka berpisah. Munir berangkat ke Belanda, untuk melanjutkan studi magister bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht. Dia terbang dengan pesawat Boeing 747-400 Garuda Indonesia. Saat di pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa disapa Polly. Adalah Brahmanie Hastawati, saksi yang melihat Polly berinteraksi dengan Munir.

Setelah satu jam 38 menit perjalanan ditempuh, pesawat singgah sementara di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Para penumpang diberi kesempatan untuk jalan-jalan sejenak di bandara tersebut. Munir menanti di ruang tunggu Gate D42. Ada saksi yang melihat Munir duduk di sofa Coffee Bean dan mengobrol dengan Pollycarpus serta Ongen Latuihamallo, sambil menikmati minuman.

Saat pesawat akan kembali melanjutkan perjalanannya, Munir bertemu dengan seorang dokter bernama Tarmizi. “Anda Pak Munir, ya?” "Iya, Pak,“ jawab Munir.” “Saya dr Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?” “Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun,‘ jawab Munir.” “Di mana?” tanya Tarmizi. “Ultrech,” balas Munir.

Singkat kisah, tiba-tiba Munir kesakitan di perutnya. “Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga,” ujarnya kepada Tarmizi. Dia meminta pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam. Lima menit setelah itu, Munir ke toilet. Tarmizi melihatnya muntah, dengan warna bening dan tidak mengeluarkan bau. Tarmizi memapahnya ke tempat duduk. Dua jam kemudian, Munir kembali ke toilet. Madjib curiga karena cukup lama Munir di Toilet. Lalu, dia melongok lewat celah dan mengetuk pintu toilet itu. Tidak ada respons. Madjib memberanikan diri masuk toilet. Dan, dia terkejut melihat Munir terkulai tak berdaya.

Tarmizi lalu menyuntikannya diazepam, 5 mg dibahu kanan. Munir tetap muntah-muntah dan buang air. Munir lalu tertidur. Sekitar 12.10 WIB, ketika sarapan, Madjib yang mendatangi kursi Munir terkejut melihat Munir mengeluarkan air liur tidak berbusa. Telapak tangannya membiru dan terasa dingin. Munir sudah meninggal dunia. Dua jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Karena menemukan adanya keanehan, Departemen Kehakiman Belanda melakukan otopsi terhadap jenazahnya. Dalam tubuh Munir ternyata ditemukan zat arsenik yang melampaui batas kewajaran.

Kematian Munir

Kematian Munir hingga kini masih misterius. Baru Pollycarpus dan Indra Setiawan yang divonis bersalah atas pembunuhan Munir. Aparat tidak mampu mengusut keterlibatan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN). “Padahal, polisi sudah menahan mantan petinggi BIN dan militer yakni Muchdi Purwopranjono," kata Usman Hamid. Ironisnya, 31 Desember 2008, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis bebas Muchdi dalam perkara pembunuhan Munir karena dianggap tidak terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan.

Perjuangannya memajukan HAM menuai penghargaan. Di tahun 1998, Munir meraih penghargaan Yap Thiam Hien Award (1998). Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia. Majalah Asiaweek (1999) juga menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia di milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998).

Saat acara mengenang tujuh tahun pembunuhan Munir di Kantor Kontras, sejumlah tokoh mengusulkan agar Munir ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Sejarawan Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam menilai, Munir layak menjadi pahlawan karena keberanian yang besar dalam menegakkan HAM. Gelar pahlawan Munir akan membakar semangat munculnya Munir lainya.

Baca Juga :

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .

Tuesday, September 26, 2017

Terbunuhnya Marsinah, dan Tragedi Seorang Buruh

Marsinah, Tragedi Seorang Buruh

Terbunuhnya Marsinah, dan Tragedi Seorang Buruh
Marsinah

Hello good millennial, jumpa lagi di blogger joeshapictures tema hari ini adalah tentang "Terbunuhnya Marsinah, dan Tragedi Seorang Buruh" penasaran, yuk kita baca !

Hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Awalnya adalah anak-anak yang bermain. Mengira bahwa kaki yang menjulur pada sebuah gubuk kelompok tani adalah milik orang gila yang biasa tidur di situ. Mereka menggoda sambil melempari dengan kerikil. Setelah berkali-kali dilempari dan tak ada reaksi, mereka pun mendekat. Alangkah terkejutnya ketika mereka mendapati bahwa kaki yang menjulur itu adalah kaki seorang mayat perempuan.

Mayat tersebut tergeletak dalam posisi terlentang. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangan tangannya lecet-lecet, diduga akibat diseret dalam tangan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Dari sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga akibat penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas.

Hanya, dan hanya, secarik potongan resi wesel sudah cukup untuk memberi petunjuk bagi aparat kepolisian untuk menelusuri kejelasan identitas mayat tersebut. Ia adalah Marsinah, seorang buruh pabrik yang pada beberapa waktu lalu terlibat aksi mogok. Tapi apakah darah dan bekas-bekas penganiayaan yang meluluhlantakan tubuh Marsinah juga akan cukup memberi petunjuk siapa tokoh penganiayaan dan kepentingan-kepentingan apa yang ada dibalik penganiayaan tersebut di kemudian hari?

Pengetahuan Mengubah Nasib

Marsinah lahir tanggal 10 April 1969. Anak nomor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak usia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya—Pu’irah—yang tinggal bersama bibinya—Sini—di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5  Nganjuk. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.

Di lingkungan keluarganya, ia dikenal anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. Sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. “Dia sering mengirim bontotan ke sawah untuk saya. Kalau panas atau hujan, biasanya anak itu memakai payung dari pelepah pisang,” kenang Suradji, pamannya Marsinah sambil menerawang. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya pergi untuk menyaksikan siaran berita televisi.

Ketika menjalani masa sekolah menengah atas, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. “Dia ingin sekolah di IKIP. Tapi, uang siapa untuk membiayai di perguruan tinggi itu,” ujar kakek Marsinah.

Pergi meninggalkan desa adalah sebuah langkah hidup yang sulit terelakan. Kesempatan kerja di pedesaan semakin sempit. Kerja sebagai buruh tani makin kecil peluangnya. Sekarang ani-ani—alat tradisional penuai padi—sudah berganti dengan sabit yang lebih efisien dan tidak memerlukan jumlah tenaga kerja sebanyak sebelumnya. Perkembangan teknologi semakin menyingkirkan para buruh tani. Tidak mengherankan, bau keringat bercampur tanah sawah sudah tidak lagi memenuhi udara pedesaan. Lenguhan sapi yang kelelahan membajak tanah semakin jarang terdengar. Ia telah disingkirkan oleh deru mesin traktor.

Ujungnya adalah tidak ada pilihan lagi selain pergi ke kota. Maka ia berusaha mengirimkan sejumnlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan gresik. Akhirnya ia diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989. setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri, sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Kegagalan meneruskan ke perguruan tinggi bukannya membuat semangat belajarnya padam. “Mbak Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang,” ujar salah seorang temannya. Karena itu, untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, Marsinah mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Kursus komputer dengan paket Lotus dan Word Processor sempat dirampungkan beberapa waktu sebelum ia meninggal. Semangat belajar yang tinggi juga tampak dari kebiasaannya menghimpun rupa-rupa informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Saking senangnya membaca, ia terpaksa memakai kacamata. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untukmembeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.

Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, tingan tangan dan setia kawan. Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Kalau ada kawan yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani.

Paling tidak dua sifat yang terakhir disebut—pemberani dan setia kawan—inilah yang membekalinya menjadi pelopor perjuangan. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah—resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Sudar Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Pengurus PUK-SPSI PT. CPS mengadakan pertemuan di setiap bagian untuk membicarakan kenaikan upah sesuai dengan himbauan dalam Surat Edaran Gubernur.

Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

Terbunuhnya Marsinah, dan Tragedi Seorang Buruh
Marsinah

Bangkitnya Keberanian

Suasana kota yang penuh dengan persaingan telah membuat setiap orang yang tinggal didalamnya untuk menjadi keras. Apalagi kehidupan buruh-buruh di pabrik yang setiap hari dikejar-kejar target produksi yang telah ditetapkan sepihak oleh pengusaha. Maka menjadi tidak mengherankan bahwa Marsinah, gadis desa yang lugu, lalu tidak canggung berdiri di barisan terdepan pengunjuk rasa. Sebuah keberanian telah menggusur kepasrahan pada nasib!

Semakin merebak jumlah aksi pemogokan di berbagai kota industri menjadi bukti ketidakpuasan. Pabrik, gedung Dewan Perwakilan Rakyat, instansi-instansi pemerintah yang berurusan dengan masalah perburuhan, dan jalanan-jalanan kota menjadi panggung yang mementaskan keresahan kaum buruh yang tak kunjung terhenti. Menurut berita, di Jawa Timur tercatat 155 pemogokan yang semuanya dihadapi tentara.

Aparat dari koramil dan kepolisian sudah berjaga-jaga di perusahaan sebelum aksi berlangsung. “Ya sudah, kalau teman-teman tidak diperbolehkan masuk, keamanan saya serahkan kepada bapak, kami sekarang hendak berunding dengan pengusaha!”, ucapnya pada salah seorang aparat keamanan.

Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama.

Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha? Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu, tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.

Marsinah sadar betul bahwa peristiwa yang menimpa kawan-kawannya adalah suatu keniscayaan di negeri milik pengusaha ini. Dari kliping-kliping surat kabar yang diguntingnya, dari keluhan-keluhan kawan-kawannya se pabrik, dari kemarahan-kemarahan yang teriakkan, dan dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, semuanya memberinya pengetahuan tentang ketidakberesan yang melanda segala lapisan dalam masyarakat kita.

Kemarahannya meledak saat mengetahui perlakuan tentara kepada kawan-kawannya. “Saya tidak terima! Saya mau (melapor) ke paklik saya yang jadi jaksa di Surabaya!” teriak Marsinah gusar. Dengan gundah ia raih surat panggilan kodim milik salah seorang kawannya, lantas pergi.

Kemana perginya Marsinah? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, Marsinah tidak lagi terlihat di pabrik tempat ia bekerja.

Awal Kebangkitan

Marsinah telah mati. Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Ia yang tidak lagi bernyawa ditemukan tergeletak dalam posisi melintang. Sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.

Marsinah adalah sosok perjuangan yang telah dihancurkan oleh sebuah ketakutan dan kecurigaan. Tapi kita tidak bisa mengingkari bahwa jiwanya tidak bisa dipenjara. Jiwanya akan membumbung tinggi untuk berubah menjadi lidah-lidah api yang akan menghanguskan segala bentuk ketidakadilan.

Anak-anak desa yang menemukan Marsinah, dan kita, menjadi saksi. Sekarang atau esok, anak-anak itu dan kita akan terus bersaksi dan bercerita tentang ketidakadilan, tentang gugurnya seorang buruh pejuang, tentang buruh perempuan yang tidak ragu untuk kehilangan nyawanya demi keyakinannya tentang kebenaran.

Terima kasih sudah membaca semoga apa yang kita baca hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua, sebelum meninggalkan blogger joeshapictures sebaiknya di share dulu, apa yang kita dapat hari ini ada baiknya jika kita membagikan pengetahuan kepada orang lain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya . . .